Home / Sejarah Dunia / Napoleon di Tanah Firaun: Ambisi Menaklukkan Mesir dan Memotong Jalur Inggris ke India

Napoleon di Tanah Firaun: Ambisi Menaklukkan Mesir dan Memotong Jalur Inggris ke India

Pada akhir abad ke-18, nama Jenderal Napoleon Bonaparte melesat bak meteor di langit perpolitikan dan militer Eropa. Setelah kampanye militer yang brilian dan penuh kemenangan di Italia pada tahun 1796-1797, sang jenderal muda kembali ke Paris sebagai pahlawan pujaan rakyat. Namun, ambisinya tidak berhenti di daratan Eropa. Dengan pandangan yang jauh ke depan (serta dorongan intrik politik di dalam negeri) Napoleon mengarahkan matanya ke Timur, ke sebuah tanah kuno yang diselimuti misteri dan kejayaan masa lalu: Tanah para Firaun, Mesir.

Artikel ini akan menelusuri salah satu kampanye militer paling epik, ambisius, sekaligus penuh tragedi dalam sejarah modern. Sebuah petualangan di mana benturan antara peradaban Barat dan Timur terjadi di bawah bayang-bayang piramida, yang tujuannya tak lain adalah untuk mencekik urat nadi imperium musuh bebuyutan Prancis, yakni Inggris.

Latar Belakang Ambisi: Menghantam Inggris dari Jauh

Pada tahun 1798, Revolusi Prancis telah mengubah wajah Eropa. Republik Prancis mendapati dirinya dikelilingi oleh monarki-monarki Eropa yang ingin menghancurkannya. Namun, musuh yang paling tangguh, gigih, dan kaya raya adalah Inggris. Prancis menyadari bahwa menginvasi Kepulauan Inggris secara langsung adalah misi bunuh diri, mengingat superioritas armada Royal Navy (Angkatan Laut Kerajaan Inggris) yang menguasai lautan.

Menteri Luar Negeri Prancis, Charles Maurice de Talleyrand, bersama Napoleon, merumuskan strategi alternatif yang brilian namun berisiko tinggi: memukul kepentingan ekonomi Inggris. India adalah “permata di mahkota” Imperium Inggris, sumber kekayaan utama mereka. Jika Prancis bisa menguasai Mesir, mereka tidak hanya akan mendirikan koloni baru yang makmur di Timur Tengah, tetapi juga memblokir rute perdagangan darat terpendek Inggris ke India via Laut Merah.

Dari sudut pandang politik dalam negeri, seperti yang dianalisis oleh sejarawan Owen Connelly dalam Blundering to Glory, pemerintah Prancis saat itu (yang dikenal sebagai Direktori) sangat senang dengan ide ini. Mengapa? Karena Napoleon sudah menjadi terlalu populer dan kuat di Paris. Mengirim jenderal ambisius ini jauh ke padang pasir Mesir adalah cara yang elegan bagi Direktori untuk menyingkirkan potensi ancaman kudeta. Jika Napoleon menang, Prancis yang diuntungkan; jika ia kalah dan tewas di padang pasir, Direktori bisa bernapas lega.

Armada Raksasa Menuju Timur dan Penaklukan Malta

Pada 19 Mei 1798, sebuah armada raksasa berangkat dari pelabuhan Toulon secara rahasia. Armada ini membawa sekitar 36.000 prajurit berpengalaman (dikenal sebagai Armรฉe d’Orient), 400 kapal angkut, dan dikawal oleh kapal-kapal perang garis depan Prancis. Tidak ada satupun prajurit biasa yang tahu ke mana mereka akan pergi. Beberapa menebak Inggris, yang lain menebak wilayah lain di Eropa.

Dalam perjalanannya, armada ini singgah di pulau Malta yang strategis. Pulau ini dikuasai oleh Ordo Ksatria St. John (Ksatria Hospitaller), sisa-sisa ordo militer dari era Perang Salib. Hanya dengan sedikit ancaman dan negosiasi singkat, Napoleon berhasil menaklukkan Malta tanpa pertumpahan darah yang berarti, menjarah perbendaharaan Ksatria, dan melanjutkan pelayarannya ke timur. Kecepatan dan keberuntungan berada di pihak Prancis, sebab armada Inggris yang dipimpin oleh Laksamana Horatio Nelson sedang mati-matian mencari mereka di Laut Mediterania namun selalu berselisih jalan.

Pendaratan di Alexandria dan Neraka Padang Pasir

Pada tanggal 1 Juli 1798, armada Prancis akhirnya tiba di pantai Alexandria. Tanpa membuang waktu, Napoleon memerintahkan pendaratan di tengah malam yang berombak, takut jika armada Nelson tiba-tiba muncul di cakrawala. Alexandria berhasil direbut dengan cepat dari garnisun lokal yang tidak siap.

Namun, musuh yang sebenarnya bukanlah tentara yang menjaga Alexandria, melainkan alam Mesir itu sendiri. Napoleon memerintahkan pasukannya berbaris melintasi padang pasir menuju Kairo. Perjalanan ini adalah neraka bagi prajurit Prancis yang terbiasa dengan iklim Eropa. Mengenakan seragam wol tebal, tanpa pasokan air yang memadai, diserang oleh disentri, serta diganggu oleh suku Badui yang terus-menerus memburu tentara yang tertinggal, moral pasukan anjlok. Sejarawan Gregory Fremont-Barnes dalam karyanya Napoleon Bonaparte mencatat bahwa banyak prajurit veteran yang selamat dari kerasnya peperangan di Italia menjadi putus asa; beberapa bahkan mengakhiri hidup mereka sendiri dengan menembakkan senapan ke kepala.

Pertempuran Piramida: Taktik Modern vs Ksatria Abad Pertengahan

Penderitaan pasukan Prancis terbayar ketika mereka akhirnya melihat sungai Nil, dan di kejauhan, siluet piramida Giza yang megah. Di sanalah, pada tanggal 21 Juli 1798, penguasa de facto Mesir menunggu mereka. Mereka adalah kaum Mamluk, kasta prajurit elit keturunan budak dari Kaukasus yang telah menguasai Mesir selama berabad-abad meskipun secara nominal berada di bawah Kekaisaran Ottoman.

Kaum Mamluk dipimpin oleh Murad Bey dan Ibrahim Bey. Mereka adalah pasukan kavaleri yang luar biasa, bertempur dengan gaya abad pertengahan, mengenakan sutra berwarna-warni, baju zirah yang gemerlap, dipersenjatai dengan senapan panjang, pistol berkubah perak, tombak, dan pedang lengkung damaskus yang sangat tajam. Mereka sangat percaya diri bisa menghancurkan infanteri Prancis yang tampak kelelahan.

Lukisan yang menggambarkan Pertempuran Piramida (Battle of Pyramids) oleh: Louis-Franรงois Lejeune

Sebelum pertempuran, Napoleon mengucapkan pidatonya yang legendaris: “Prajurit, dari puncak piramida-piramida itu, empat puluh abad menatap ke arah kalian!”

Secara taktis, pertempuran ini adalah demonstrasi superioritas militer Eropa modern atas gaya bertempur feodal. Mengingat kavaleri Mamluk sangat cepat dan mematikan dalam pertarungan jarak dekat, Napoleon tidak menggunakan formasi barisan linear. Ia memerintahkan setiap divisinya membentuk formasi “Bujursangkar” (infantry square). Pasukan membentuk kotak besar dengan meriam ditempatkan di sudut-sudutnya, dan persediaan logistik di bagian tengah yang aman.

Ketika kavaleri Mamluk menyerang dengan teriakan perang yang menggelegar, mereka disambut oleh dinding bayonet dan badai tembakan musket serta kanon yang disiplin. Gelombang demi gelombang kuda dan penunggang Mamluk hancur sebelum sempat menyentuh barisan Prancis. Pertempuran Piramida berakhir dengan kemenangan telak bagi Napoleon. Kairo jatuh, dan Mesir kini berada di tangannya.

Bencana di Teluk Aboukir: Armada Prancis Binasa

Namun, kegembiraan penaklukan itu hanya berumur pendek. Pada tanggal 1 Agustus 1798, mimpi buruk Prancis menjadi kenyataan. Laksamana Nelson akhirnya menemukan armada kapal perang Prancis yang berlabuh di Teluk Aboukir, dekat Alexandria.

Dalam Pertempuran Sungai Nil (Battle of the Nile), kapal-kapal Inggris menyerang dengan taktik yang berani, menyusup di antara garis pantai dan armada Prancis. Hasilnya adalah pembantaian angkatan laut. Kapal bendera Prancis, L’Orient, meledak dengan dahsyat yang suaranya terdengar hingga belasan kilometer jauhnya.

Kapal bendera Prancis L’Orient yang berhasil dihancurkan oleh Armada Inggris pada Pertempuran Sungai Nil. Lukisan berjudul “The Destruction of ‘L’Orient’ at the Battle of the Nile, 1 August 1798” oleh: George Arnald.ย 

Kehancuran armada Prancis memiliki dampak strategis yang fatal. Napoleon dan 30.000 pasukannya kini terperangkap di Mesir. “Kita harus mati di sini, atau keluar sebagai orang besar,” kata Napoleon mencoba menenangkan para perwiranya. Rute suplai terputus, dan rencana utamanya untuk menjadikan Mesir batu loncatan menuju India hancur seketika.

Para Savants: Lahirnya Egiptologi Modern

Satu aspek yang membuat Ekspedisi Mesir sangat unik dan berbeda dari penaklukan militer lainnya adalah kehadiran para sarjana. Napoleon tidak hanya membawa meriam dan senapan, tetapi juga membawa 167 ilmuwan, insinyur, seniman, dan cendekiawan Prancis (disebut savants).

Mereka mendirikan Institut d’ร‰gypte di Kairo. Tugas mereka adalah meneliti, memetakan, dan mencatat segala sesuatu tentang Mesir baik dari fauna, flora, sistem irigasi, tata letak geografis, hingga monumen-monumen kuno. Penemuan terbesar mereka terjadi pada tahun 1799 ketika seorang insinyur militer bernama Pierre-Franรงois Bouchard menemukan sebuah lempengan batu granit hitam di dekat kota Rashid. Batu itu diukir dengan tiga jenis tulisan: Hieroglif Mesir kuno, Demotik, dan Yunani Kuno.

Batu ini, yang kelak dikenal sebagai Batu Rosetta (Rosetta Stone), menjadi kunci bagi ilmuwan Prancis Jean-Franรงois Champollion bertahun-tahun kemudian untuk memecahkan sandi bahasa hieroglif yang telah mati selama ribuan tahun. Upaya kolektif para savants ini dikompilasi dalam karya monumental berjudul Description de l’ร‰gypte, yang melahirkan disiplin ilmu baru: Egiptologi.

Kampanye Suriah: Wabah, Pengepungan, dan Kemunduran

Kekaisaran Ottoman, yang marah atas invasi Prancis ke wilayahnya, mendeklarasikan perang. Mengetahui bahwa pasukan Ottoman sedang dikumpulkan di Suriah untuk menyerang Mesir, Napoleon mengambil inisiatif menyerang lebih dulu pada awal tahun 1799. Pasukan Prancis bergerak ke utara menuju Jaffa dan Acre (sekarang wilayah Palestina yang terjajah Israel).

Kampanye ini ditandai dengan kebrutalan luar biasa dan wabah penyakit. Di Jaffa, setelah menaklukkan kota, Napoleon memerintahkan eksekusi ribuan tawanan perang Ottoman di pinggir pantai karena ia tidak punya cukup makanan untuk mereka. Setelah itu, wabah pes (Bubonic Plague) mulai menyerang pasukan Prancis, menimbulkan kengerian dan kematian massal.

Puncak kegagalan kampanye Suriah terjadi di Pengepungan Acre. Kota berbenteng kuat ini dipertahankan secara heroik oleh Djezzar Pasha dari Ottoman, yang didukung secara kritis oleh komandan Angkatan Laut Inggris, Komodor Sir Sidney Smith. Berbulan-bulan Prancis membombardir tembok kota, namun Inggris terus memasok kota dari laut dan bahkan merampas meriam pengepungan Prancis yang sedang dikirim via laut. Kehabisan waktu, amunisi, dan pasukan akibat wabah mematikan, Napoleon terpaksa menelan pil pahit kekalahan dan memerintahkan pasukannya mundur kembali ke Mesir melewati gurun yang menyiksa.

Meninggalkan Pasukan dan Akhir “Imperium Timur”

Menjelang akhir tahun 1799, situasi di Eropa memburuk bagi Prancis. Austria dan Rusia berhasil memukul mundur pasukan Republik Prancis dari berbagai front. Mengetahui hal ini melalui koran-koran lama yang diselundupkan oleh kapal Inggris, dan menyadari bahwa posisinya di Mesir hanyalah masalah waktu sebelum kehancuran total, Napoleon mengambil keputusan kontroversial.

Secara diam-diam di malam hari, Napoleon meninggalkan Mesir menggunakan dua kapal fregat kecil yang berhasil menghindari blokade laut Inggris. Ia kembali ke Prancis, meninggalkan pasukannya yang kebingungan di bawah komando Jenderal Jean-Baptiste Klรฉber. Di Prancis, alih-alih diadili karena desersi, kegagalan ekspedisi diabaikan oleh mesin propagandanya. Napoleon menggunakan momentum popularitasnya untuk melancarkan Kudeta 18 Brumaire, menggulingkan Direktori, dan menjadikan dirinya Konsul Pertama (First Consul).

Bagaimana nasib pasukan Prancis yang ditinggalkan di Mesir? Seperti yang diulas secara mendalam oleh Stuart Reid dalam bukunya Egypt 1801: The End of Napoleon’s Eastern Empire, pasukan Prancis terisolasi dan moral mereka terus menurun, apalagi setelah Jenderal Klรฉber dibunuh oleh seorang ekstremis lokal.

Akhirnya, pada tahun 1801, armada Inggris yang membawa pasukan di bawah pimpinan Jenderal Sir Ralph Abercromby mendarat di Mesir. Lewat pertempuran berdarah seperti Pertempuran Alexandria, pasukan Prancis yang kini dipimpin oleh Jenderal Menou akhirnya menyerah. Berdasarkan perjanjian kapitulasi, sisa-sisa pasukan Prancis dipulangkan ke Eropa oleh kapal-kapal Inggris. Menariknya, Batu Rosetta dan banyak artefak penting lainnya dirampas oleh Inggris dari para ilmuwan Prancis, yang menjelaskan mengapa Batu Rosetta hari ini berada di British Museum di London, bukan di Louvre Paris.

Kesimpulan

Ekspedisi Napoleon ke Mesir adalah sebuah paradoks sejarah. Secara militer dan strategis, kampanye ini adalah sebuah kegagalan total. Ambisi untuk memotong urat nadi perdagangan Inggris ke India hancur di Teluk Aboukir dan terkubur di padang pasir Suriah. Ribuan prajurit Prancis yang berani mati sia-sia karena penyakit dan kehausan.

Namun, secara kultural dan sejarah, ekspedisi ini mengubah dunia. Penemuan Batu Rosetta dan eksplorasi ilmiah yang dilakukan oleh para savants membuka kembali tirai masa lalu Mesir Kuno yang telah lama terkubur pasir waktu. Bagi Napoleon Bonaparte sendiri, “bencana” ini tidak menghancurkan kariernya; ia justru memanipulasi mistisisme dan romansa petualangan Mesirnya untuk merengkuh kekuasaan tertinggi, membuka jalan baginya untuk kelak menjadi Kaisar Prancis dan menguasai hampir seluruh Benua Eropa.

Bibliografi

Connelly, Owen. Blundering to Glory: Napoleonโ€™s Military Campaigns (Third Edition). Rowman & Littlefield Publishers, 2006.

Fremont-Barnes, Gregory. Napoleon Bonaparte. Osprey Publishing, 2010.

Reid, Stuart. Egypt 1801: The End of Napoleon’s Eastern Empire. Frontline Books, 2021.


Baca juga: Aztek: Peradaban Darah dan Matahari di Meksiko Sebelum Kedatangan Spanyol

Loading

Tagged: